0
Dikirim pada 20 Maret 2013 di seo

 

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen Saat ini produk barang dan jasa sangat banyak beredar di pasaran,dimana hal ini akan dapat membingungkan konsumen. Apalagi kini produk barang konsumsi untuk salah astu jenis saja begitu beragam dengan merk.Ditengan persaingan antar produk yang begitu ketat untuk menarik minat beli konsumen,maka menjual produk melalui iklan menjadi strategi yang afaktif. Selain itu semakin banyaknya tumbuh pusat-pusat perbelanjaan, mulai dari tradisional hingga modern, menjadi sarana yang efektif pula untuk memancing minat beli konsumen.

 

Pengertian Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen
Dalam kondisi seperti tersebut diatas, iman konsumen sering sangat mudah goyah. Apalagi jika dalam kondisi memiliki kelebihan uang. Sebagai contoh yang acap dialami konsumen adalah pada saat berbelanja, terutama di pasar swalayan. Dimana jajaran produk-produk barang yang ada di swalayan begitu menarik dan kelihatan begitu mudah, sehingga tanpa sadar konsumen membeli produk tersebut, sedang pada waktu berangkat dari rumah untuk berbelanja dan bahkan di daftar rencana belanja, produk barang tersebut tidak direncanakan akan dibeli. Konsumen Cerdas Paham Perlindungan

Untuk itu, hal yang penting untuk harus selalu dicamkan pada saat konsumen berencana membelanjakan uang untuk suatu produk barang dan/atau jasa adalah apakah produk yang akan dibeli itu merupakan produk yang dibutuhkan ( need ) atau sekedar keinginan ( want ). Menurut kamus psikologi, need adalah sesuatu yang berkaitan dengan rasa kekurangan yang harus dipenuhi. Sementara want lebih kearah pemenuhan selera ( James Drever, 1986:300,518 ). Karena menyangkut selera, maka cenderung bersifat sesaat.Dan jika sikap mengkonsumsi yang lebih atas dasar keinginan tersebut dipelihara maka akan memunculkan sikap boros. Sementara jika yang dipelihara adalah sikap berkonsumsi atas dasar kebutuhan, maka konsumen akan hidup lebih hemat dan cermat.

Teliti Sebelum Membeli/Mengkonsumsi

Banyak produk barang dan/atau jasa yang beredar dipasaran, maka harus diimbangi dengan sikap yang tiliti dalam mentukan produk yang akan dibeli dan/atau konsumsi. Sikap teliti itu baik sekali jika diterapkan sejak konsumen melihat promosinya, baik yang ditampilkan melalui iklan-iklan di media massa maupun brosur-brosur yang diberikan. Misalnya iklan-iklan yang berlebihan sehingga sering tidak logis, contohnya iklan tentang perumahan yang dinyatakan hanya berjarak 10 menit dari pusat kota, padahal konsumen tahu lokasi perumahan itu ada di pinggiran kota yang tidak mungkin dicapai hanya 10 menit bahkan dengan berkendaraan. Atau iklan makanan atau minuman untuk anak anak mendadak menjadi begitu kuat setelah mengkonsumsi makanan atau minuman itu,sehingga tidak logis karena kekuatan pertumbuhan anak tidak bisa dibuat secara instan.Dan iklan-iklan lainya yang cenderung menyesatkan.menjadi konsumen cerdas

Selanjutnya, begitu konsumen sudah memutuskan akan membeli suatu produk barang dan/atau jasa, maka perlu diperhatikan dengan cermat labelnya untuk produk barang dan kontrak atau klausulanya untuk produk barang jasa.Khusus untuk produk tertentu, seperti elektronik dan kendaraan, diusahakan untuk dapat mencobanya dulu dan memproleh garansi.

Pencermatan atas label produk barang meliputi di antaranya adanya : nama merek, nama perusahaan dan alamatnya ( minimal nama kotanya ), kode produksi, ijin Depkes, bahan-bahan produksinya ( untuk makanan/minuman dan kosmetik ) dan tanggal kadaluarsanya ( khusus untuk makanan dan minuman ).

Sedang pencermatan atas kontrak atau klausula dalam pembelian produk jasa yang paling penting adalah ada tidaknya pengalihan tanggung jawab produsen kepada konsumen atau sebaliknya adanya hak konsumen yang diambil alih oleh produsen. Sebagai contoh adalah adanya klausula yang menyatakan perhitungan kredit atau harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Klausula semacam itu merupakan klausula baku atau perjanjian kontrak sepihak yang dibuat oleh pelaku usaha untuk keuntungan pelaku usaha sendiri yang berdasarkan UUPK tidak diperbolehkan dan batal demi hukum.

Jika tidak cukup banyak atau jelas informasi yang ada, baik dalam label maupun klausula, maka sangat bijak untuk tidak merasa sungkan bertanya dan menggali informasi lebih dalam kepada petugas pelayanan penjualan. Sehingga memperoleh informasi yang cukup dan meyakinkan untuk memutuskan jadi tidaknya membeli produk tersebut.



Dikirim pada 20 Maret 2013 di seo
comments powered by Disqus


connect with ABATASA